SALING KETERGANTUNGAN ADALAH KODRAT KEHIDUPAN

Minggu, 19 Juli  2020

1 Korintus 12 : 12 – 31

Lelemuku (anggrek Larat) yang indah adalah hasil saling ketergantungan antara manusia, burung, pohon, tanah, dan lainnya. Akar Lelemuku berpijak pada batang pohon untuk mendapat makanan, pohon bertumbuh pada tanah yang dihuni hewan-hewan kecil, berfungsi menguarai berbagai zat untuk kesuburan tanah. Matahari menyinari Lelemuku, dan hujan  membasahinya, membuat Lelemuku bertumbuh dengan subur dan mengeluarkan kuncup bunga yang akan dibuka oleh burung. Lelemuku sangat mahal dipasaran sehingga menjadi sumber pendapatan bagi manusia, sebab banyak orang berebut Lelemuku, menjadikannya sebagai hiasan, penyejuk suasana, bahkan sebagai ungkapan cinta seseorang dalam berbagai peristiwa. Semua ciptaan Tuhan: manusia, hewan, tumbuhan, matahari, dll, saling bergantung, saling membutuhkan satu dengan lainnya. Siklus kehidupan adalah mata rantai yang saling terhubungkan. Dalam siklus kehidupan yang terus berputar, semua atau segala sesuatu merupakan satu kesatuan sekalipun berbeda fungsi. Tetapi satu dengan yang lain saling membantu dan melengkapi sehingga tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Sama seperti, tubuh yang terdiri dari banyak anggota : mata, tangan, kaki, telinga, dll. Masing-masing dengan fungsinya tetapi satu terhadap yang lain saling membutuhkan. Kaki membutuhkan mata yang menuntun supaya kaki tidak salah melangkah. Sekalipun banyak anggota, tetapi tetap satu tubuh. Ketika satu bagian sakit maka semua bagian akan sakit sehingga merusak seluruh sistem dari tubuh tersebut. Masing-masing bagian dalam suatu siklus kehidupan bertanggungjawab untuk melakukan fungsinya dengan baik, agar semua bagian dapat menikmati keutuhan arti kehidupan itu. Demikian juga Pandemi covid-19, mengajarkan kita bagaimana bersinergi untuk melakukan peran masing-masing secara bersama, “bersama katong bisa”.

Doa : Tuhan, tolonglah kami melakukan setiap peran di dalam dunia, Amin.

Sumber : Sinode GPM – SHK Bulan Juli 2020