Minggu, 09 Agustus 2020
1 Korintus 3 : 1 – 9
Tuhan menciptakan kita sebagai manusia berbeda satu dengan yang lain, baik jenis kelamin, warna kulit, rambut, wajah, sifat, karakter dan sebagainya. Namun dengan perbedaan itu kita bisa saling melengkapi. Ibarat suami istri yang dipersatukan dalam suatu pernikahan, mereka berbeda, baik dari latar belakang keluarga, jenis kelamin dan lainnya, namun dengan cinta dan kasih mereka dapat persatukan. Cinta dan kasih dapat menjauhkan mereka dari sifat iri hati, cemburu, dengki, kemabukan, hawa nafsu, dll. Jemaat Korintus memang memiliki banyak perbedaan, baik suku, bangsa, bahasa, karunia, kepercayaan, dan semua itu adalah kekayaan yang harus dikelola dengan baik untuk kepentingan bersama. Namun ternyata mereka membentuk kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang saling berupaya untuk menunjukan siapa yang paling kuat atau kelompok mana yang paling hebat, misalnya: perselisihan yang terjadi karena munculnya kelompok yang berpihak kepada Paulus, dan juga ada kelompok yang berpihak kepada Apolos, dan masing-masing kelompok hidup dalam pementingan diri sendiri. Dalam gereja maupun masyarakat, jika ada orang yang mementingkan diri sendiri, maka orang itu sesungguhnya sedang meruntuhkan kesaksian gereja dihadapan dunia. Karena mementingkan diri sendiri itu sama dengan menjadikan diri sendiri sebagai nomor satu, lalu orang lain menjadi nomor dua, bahkan tanpa disadari Allah akan kita posisikan sebagai nomor dua. Itu artinya hindarilah pertengkaran, perpecahan, perselisihan yang berakar pada pementingan diri sendiri. Rawatlah setiap perbedaan didalam keluarga menjadi kekayaan yang saling menopang untuk pertumbuhan bersama. Paulus mengingatkan kita bahwa Allah yang akan memberi pertumbuhan terhadap semua yang sudah kita lakukan.
Doa: Tuhan, lengkapilah kami dalam Roh dan Hikmat. Amin.
Sumber : Sinode GPM – SHK Bulan Agustus 2020