Kamis, 05 November 2020
1 Samuel 18 : 6 – 11
Amarah dan kedengkian adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak mampu menguasai diri, karena pikiran dan persaannya terganggu, karena merasa tersinggung dengan perkataan dan tindakan orang lain yang tidak bisa diterimanya. Demikianlah Saul, seorang raja yang biasanya menerima kata-kata pujian dan penghormatan dari rakyatnya. Tetapi ketika Daud
mampu mengalahkan Goliad, panglima perang Filistin yang tidak mampu dihadapi oleh Saul dan pasukannya, maka masyarakat Israel menyambut peristiwa itu sebagai suatu kemenangan yang besar. Mereka memberikan penghargaan yang luar biasa pada Daud seorang pemuda belia. “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (7.b), demikian nyanyian mereka yang menyambut kemenangan Daud. Sedangkan Saul siraja yang berkuasa merasa tidak dihargai. Hal ini disebabkan karena Saul dianggap tidak mampu mengalahkan panglima Filistin yang telah menghina umat Israel dan Allah mereka. Amarah dan kedengkian Saul kepada Daud, bahkan melahirkan pikiran dan tindakan yang jahat untuk membunuh Daud. Karena Daud telah dianggap sebagai Idola rakyat, dan ini menjadi ancaman bagi kedudukan Saul sebagai raja Israel. Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa apabila kita mau melepaskan diri dan berbagai pikiran dan tindakan yang jahat, maka kita harus menguasai diri, dengan berpikir positif, dan memberi diri dituntun oleh kuasa Roh Kudus. Orang yang dituntun oleh kuasa Roh Kudus akan digerakkan untuk melakukan pebuatan baik dan menyenangkan banyak orang.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menguasai diri, agar kami tidak melakukan kejahatan. Amin.
Sumber : Sinode GPM – SHK Bulan November 2020