JADIKANLAH BUMI SEBAGAI MEZBAH BAGI TUHAN

Minggu, 28 Juni 2020

Kejadian 8 : 1 – 22

Ketika Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh Allah dari ancaman Air Bah, Nuh mendirikan mezbah bagi Allah dan mempersembahkan korban di atasnya. Hal ini adalah sama dengan akta pengakuan yang dibuat oleh Nuh bahwa Allah adalah pemilik dan penguasa atas bumi. Bumi bukan milik manusia untuk disalah gunakan dan dirusakan, tetapi adalah milik Allah yang harus dihormati hak hidupnya, harus dirawat dan dipelihara untuk hidup secara berkelanjutan. Nuh sudah merasakan akibat dari kehancuran bumi karena keangkuhan dan kekerasan yang dilakukan manusia di atas dan terhadap bumi, kini mengambil prakarsa untuk memperbaiki sikap manusia terhadap bumi. Karena itu hanya dengan mengikuti kehendak Allah sajalah maka bumi dan seluruh isinya bisa berfungsi untuk saling memberi hidup. Setelah itu, terjadi perubahan atas sikap Nuh terhadap bumi yang diperkokoh dengan suatu hubungan perjanjian baru, dimana Tuhan Allah berjanji untuk memelihara bumi dan menjamin hidup manusia. Ini berarti tidak boleh ada lagi penghancuran dan kekerasan terhadap bumi oleh siapapun khususnya manusia. Sebaliknya manusia dituntut untuk memperlalukan bumi sebagai mezbah atau tempat suci dari Allah, sebagai wujud dari kesadaran dan pengakuannya akan Allah sebagai pemilik atas diri manusia dan atas seluruh bumi. Dewasa ini akibat dari kehancuran lingkungan hidup sangat terasa, baik dalam bentuk kekeringan yang hebat atau banjir dan tanah longsor yang dahsyat maupun dalam bentuk bermunculannya berbagai penyakit akibat wabah virus yang mengancam. Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa bumi adalah “saudara sesama ciptaan”, oleh sebab itu harus dikasihi, dijaga dan dirawat agar dapat hidup bersama di hadapan Tuhan.

Doa : Tuhan, biarlah keluarga kami dapat mencintai bumi dan menjadikannya mezbah bagiMu. Amin.

Sumber : Sinode GPM – SHK Bulan Juni 2020