Minggu, 04 Oktober 2020
1 Korintus 10 : 14 – 24
Hari ini, kita merayakan Perjamuan Kudus Oikumene, dimana didalamnya kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, telah dipersatukan kepada Kristus melalui Perjamuan Kudus, sebagai lambang penebusan Kristus untuk menyelamatkan hidup kita. Lewat Perjamuan Kudus Oikumene, kita diingatkan untuk menjaga keutuhan persekutuan umat sebagai ‘Tubuh Kristus’, agar tidak terpecah-pecah karena berbagai kepentingan. Dalam kehidupan jemaat Korintus, yang hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat yang masih percaya kepada allah lain dan menyembah dewa-dewa, orang Korintus seringkali tergoda untuk mengikuti perayaan-perayaan mereka. Bahkan seringkali mereka yang ‘lemah’ dan gampang tergoda, ikut menikmati makanan yang sudah dipersembahkan kepada para berhala. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka menjauhi penyembahan berhala. Paulus mengajak jemaat Korintus untuk belajar dari pengalaman ‘nenek moyang Israel’ yang “mendua hati” dengan menyembah Allah Israel tetapi sekaligus juga, mereka menyembah kepada para berhala bangsa asing, yang mengakibatkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus, kita telah diselamatkan oleh Yesus, melalui pengorbanan-Nya di bukit Kalvari, oleh sebab itu ketika kita ‘duduk bersama’, untuk makan dan minum di Meja Perjamuan Tuhan, kita diingatkan untuk tetap merawat keutuhan persekutuan kita. Artinya, jika salah seorang diantara kita ‘tergoda’ karena ‘kelemahannya’ untuk tidak setia kepada Allah dalam Yesus Kristus, maka kita yang ‘kuat’ wajib membantu mereka yang ‘lemah’ dengan saling mengingatkan, saling menegur, saling mendoakan, dan menuntunnya untuk sadar, bertobat dan berbalik dari kesalahannya, agar dia diselamatkan oleh Yesus.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk saling menegur dan mendoakan, jika ada yang berbuat salah, Amin.
Sumber : Sinode GPM – SHK Bulan Oktober 2020